Pagi yang cerah, gemercik air terdengar ramai saling menyapa, dedaunan pada pepohonan itu melenggok-lenggok menari riang bersama alunan angin yang semilir.
Namun, semangat ibu nampak berbeda. Raut senyumnya terlihat lebih tipis. Tekukan-tekukan pada parasnya lebih terlihat tajam.
"Ibu, selamat pagi!" sapaku ceria untuk ibu dengan mencium kedua pipinya.
Ibu hanya menyeringai menanggapi sapa ceriaku.
"Sarapan sudah ada di atas meja nak." kata ibu tegas.
"Iya bu."
"Bagaimana dengan ibu jika hanya ini yang tersedia di atas meja makan?" tanyaku bingung.
"Ibu sudah kenyang, nak." jawab ibu menjelaskan.
Di ujung sana ibu hanya duduk termenung, diam tanpa kata setelah penjelasan tadi.
"Aku tidak mau makan, bu."kataku sedikit membentak.
Ibu hanya terdiam.
Perlahan rasa penasaranku mulai memuncak, aku mendekati tempat duduk ibu di ujung sana.
Ibu masih terdiam.
Ibu terlihat tenang dari kejauhan.
Hanya terlihat secarik kertas di atas meja tamu dengan ibu yang tetap saja tenang.
• Tak pernah terfikirkan arti diam ibu untuk beberapa menit yang lalu.
Hanya ditemani raga ibu disampingku dengan tetesan air mata ketika membaca secarik kertas itu di tanganku.
Andai aku bangun lebih awal untuk sarapan bersamamu bu.
Andai kemarin aku lebih bersyukur masih mampu menikmati hati bersamamu bu.
Andai hari ini aku bisa ikut duduk tenang di sampingmu bu.
• Terimakasih untuk menu sarapan buatanmu yang terakhir kali pada pagi hari ini bu.
0 komentar:
Posting Komentar